Mengapa ooh… Mengapa…???

Sejak kapan ya ini blog jadi lahan curhatku??

tapi oke-lah, aku gak terlalu memusingkannya. Toh, semua manusia butuh orang laen buat sharing.

i have a story,,,,yang aku gak nyangka sama sekali.

Semuanya berawal ketika kumenemani seorang teman dekat pergi ke kampus. Tiba-tiba di penghujung jalan aku melihat sosok yang udah gak asing buatku. Temen SMA-ku!!!!

Kita banyak cerita-cerita sesudah itu. Ngalor-ngidul ngomongin yang gak jelas. Hingga tiba pada perbincangan itu. Temenku SMA yang kebetulan temenku SD ini bilang, kalo salah seorang temen SD, sebut saja Mawar, udah punya anak.

Serentak aku teriak. Sumpe loh???

Dan parahnya, Mawar itu temenku karib pas SD, masa dia tega nikah gak bilang-bilang ma aku. beberapa bayangan berkelebat gitu aja di memoriku.

Dia memang aneh, paling gak itu yang aku hadapi ketika sempat beberapa kali bertemu dengan Mawar. Haduh, Mawar, apa salahku sih pe nikah aja gak kirim kabar. Tapi satu info yang kudapat, bahwa Mawar sampe sekarang masih aktif kuliah.

Apa emang salahku juga ya?! Sebagai sohib aku jarang contact dia. hukz…

Tapi yo wis, besok aku bakal coba hubungin dia…Tapi nomor dia ganti-ganti mulu…T.T
give me unlimited suggestions!!!!

Tidak Disana Lagi…

Aku tak lagi merasakan perasaan itu….

jauh terbuang begitu saja….

aku tak lagi berhasrat menghubungimu…. Semua musnah begitu saja, hanya dalam hitungan detik. Aku tak bisa menangis lagi… Walau aku masih merasa kesepian dalam ramainya hiruk pikuk dunia ini….

kemana harus aku buang semua rasa ini…???

Apa kamu mau menampungnya??

Harus aku bawa kemana semua kisah dah jekal perjalanan tentangmu???

Adakah dirimu disana untuk sedikit mengerti semua yang telah terjadi….

hohoho….

aneh2 wae…..

IP, gimana seharusnya ???

Aku masih gak dong sama IP, gimana dia bisa begitu penting buat kita, tapi ketika kita berpikir bahwa itu penting, dan ketika kita dapati itu nilainya jelek, maka hancurlah kita.

Sebenarnya gimana dengan IP itu sendiri. Apakah itu patokan mutlak buat kita. Lalu, ketika IP jelek apa semua sudah gak ada yang bisa berubah?

Aduh… Tolong donk beri masukan, super bingung…!!!!!!!!!

 

Sebuah teriakan..

Teriak gadis semester yang satu…

Cilok..??? Bukan Cinlok Loh…

Makanan ini kenyol-kenyol atau kenyal, di dalamnya berisi potongan daging, rasanya gurih dan bikin aku ketagihan.

Apalagi kalau bukan cilok. Hmmm,… Kok bisa ya aku ketagihan sama makanan yang satu ini. Di Wikipedia ditulis bahwa asal makanan ini dari Sunda. Tapi di sekitar kampusku, berderet banyak sekali gerobak yang menyediakan Cilok.

Awal mulanya karena iseng menunggu proses verifikasi pendaftaranku sebagai mahasiswa baru, aku membelinya. Ternyata sangat mudah mendapati makanan ini di situ. Lambat laun jadi terbiasalah kubeli makanan ini. Apalagi makanan ini juga dijual di sekitar rumahku. Pokoknya kudu coba!^0^

Ketika Dua Sisi Kehidupan Membidik

Judul : Bidik !

Karya : Nugroho Nurarifin

Tebal : 264 halaman

 

 

“Tragedi selalu memiliki dua sisi”

Itulah kalimat yang tertera dalam sampul buku menarik ini.Buku ini menampilkan dua sisi kehidupan dimana masing-masing peran memainkan posisinya sebagai tokoh utama.

Sisi 1 bertajuk Lomotions, yang menceritakan Hendrik sebagai tokoh utamanya. seorang pegawai kantor yang memiliki ambisi sebagai seniman, namun nasibnya berkata lain. Kesialan demi kesialan bergulir dalam hidupnya. Rutinitas membuatnya semakin hidup dalam neraka yang tak tahu harus pada siapa disalahlkan. Memiliki seorang istri “pembunuh bayi” tidak pernah iagambarkan dalam masa depannya yang kini harus selalu berbaring dengannya tiap malam sebagai nenek sihir baginya.

Hingga suatu saat ia menemukan secercah harapan. kebiasaannya megakses internet di sela-sela jam kerjanya membuat ia berkenalan dengan Holga, kamera yang membuatnya menaruh harapan besar untuk menjadi seorang seniman. Dan ia memilih Astari Wirjono sebagai modelnya.

Sisis 2, Loco Motive, ditampilakan Satrijo seorang pemuda yang karena keberuntungan atau kesialannya harus bertemu dengan cinta sejatinya di tempat kerja barunya, Astari Wirjono. Satrijo muncul sebagai pemuda cerdas, kuat, dan berpendidikan namun lemah dan tak dapat mengatur perasaannya sendiri. hidupnya mulai berantakan begitu ungkapan cinta untuk kesekian kali ditolak oleh Astari yang menurutnya sangat mencintainya. Semua hancur hingga ia harus kembali ke kota asal dan memulai hidup dan usaha baru di Jakarta.

Sore yang cerah ia melihat sosok Astari di pinggir jendela. Selalu, selalu, dan selalu… Hingga ia teringat kembali akan luka itu lagi. Dengan pistol ia mengungkapkan perasaannya.

BIDIK !

Dua peristiwa dengan kata sama tapi memiliki pengertian berbeda. Antara membidik objek dengan kamera dan membidik jantung dengan pistol. Targetnya sama, Astari Wirjono.

Buku ini sangat menarik. Sampul yang berbeda dari biasanya merupakan salah satu faktor paling dominan buku ini dikatakan ‘berbeda’. Bahasa yang digunakan pun sangat mudah dimengerti. Jenis kertas beserta ornamen yang tercetak di atasnya sangatlah menarik. Namun mungkin ukuran huruf yang terlalu kecil merupakan kekurangannya.

Meski begitu buku ini wajib dibaca oleh book lovers. Ceritanya cerdas dan memberikan hiburan tersendiri bagi para penikmat buku.

Referensi :

Nurarifin, Nugroho. 2005. Bidik !. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Tinggal Landasnya Perjalanan Pak Harto

Seroak tangis mengiringi kepergiannya. Entah apa ada yang tertinggal darinya. Hanya senyum yang selalu menghiasi layar kaca yang masih terbayang dalam angan ini.

“Pak Harto tu sapa to???”

Anak kecil penuh kepolosan layaknya burung yang baru bisa memakan untuk pertama kalinya itu bertanya pada orang tuanya. Mereka tidak merasakan bagaimana Pak Harto saat itu, memerintah negeri ini selama lebih dari 32 tahun. Berjuang membangun negeri antah berantah ini, menyokong dan mengiringi hingga proklamasi itu membahana, yang lalu dicanpakkan begitu saja, dilempar ke dalam tumpukan benda-benda paling menjijikan di dunia. seakan orang yang berdiri di depan mereka itu adalah orang yang paling berhak disalahkan atas segala kemalangan yang menimpa hidup mereka.

Tidak ingatkah kita akan jasa-jasa beliau????

Kini senua itu hanya tinggal seonggok jasad tak berjiwa. Tenang, tak lagi mendengar segala macam sumpah serapah.

Selamat jalan Pak Harto, doa kami mengiringi tidurmu yang tak berujung. Hanya sejarah yang nantinya akan bertuah tentangmu. Juga bangunan yang kini akan meneduhi istirahatmu.

 

Memoir of 27 Januari 2008

Dari Fakultas Kehutanan Lantai 5

Satu jam sudah aku duduk dan menunggu di lorong sunyi itu sendirian. Kubalik-balik buku seharga Rp. 5000, 00 itu. Isinya bagus. Aku membelinya di Gramedia karena saat itu memang sedang ada diskon. Tapi kenapa aku ada di lorong lantai 5 Fakultas Kehutanan UGM ini ???
Aku sedang menunggu nara sumberku untuk kuwawancarai dalam rangka ikut mengisi deretan-deretan kalimatsurat kabar kampusku. Setelah susah payah mencari tempat ini, aku mendapatkan jawaban bahwa aku harus menunggu sekitar setengah jam untuk bertemu beliau karena beliau sedang ada rapat dengan dekan. Tak apalah…menit-menit berlalu begitu saja tanpa mengijinkan aku menawar lagi. Beberapa mahasiswa sudah lalu lalang begitu saja di depanku. Yah, karena aku juga masih mahasiswa. Tak terasa sudah satu jam berlalu. Halaman-halaman bukuku seakan ikut menyumpeli pikiranku yang sedang kalut. Aduh, bagaimana ini, kenapa lama sekali ??
Seakan tak sabar lagi untuk beranjak, kakiku berdiri. Dari ujung lorong sebelah kanan kulihat beliau berjalan, wajah yang lumayan masih asing untukku. Dia yang aku cari.
“ Maaf, Bapak yang bernama Bapak San Afri Awang??” Kalimat polos itu terlontar begitu saja dari mulutku.
Beliau sempat bercanda, tapi akhirnya beliau mempersilakan aku masuk. Aku segera mengutarakan maksud kedatanganku ke situ.
Wawancara tentang research university.
Apalagi itu, istilah baru dalam kamusku. Kami berbincang-bincang. Aku tak mengira beliau sangat ramah, memberi respon positif pada kedatanganku yang tiba-tiba ini sebagai ‘calon’ wartawan masa depan. Uups….
Dari situ aku begitu mengagumi dosen Fakultas Kehutanan UGM ini. Beliau menceritakan banyak hal padaku, di luar materi wawancaraku. UGM yang kami masuki setiap saat, yang kami banggakan ketika kami keluar dari atmosfer ini. Semuanya….yang ternyata kami belum tahu.
Selama perjalananku kembali ke rumah, aku jadi merasa bahwa semua tak seperti yang aku pikir. Menjadi wartawan itu menyenangkan. Benar apa yang dikatakan pepatah, bahwa jika kau ingin melihat dunia, jadilah wartawan. Aku senang bertemu dengan Bapak San Afri Awang siang itu. Penat dan beban karena ketidakteraturan jadwal hariku saat itu seakan dapat digantikan dengan kepuasan tersendiri ketika aku menulis berita. Sungguh unik dan menantang tentunya.Try it!!!

Doa Buat Pak Harto

Untaian kata singkat untuk beliau…Mari kita sama berdoa untuk kesembuhan beliau, dengan berbagai alasan tentunya…

  • bagaimanapun juga beliau ikut mengatasi masalah perekonomian Indonesia pada masa-masa pasca G30S/PKI
  • masih misterinya Supersemar
  • mengharapkan keadilan di negeri ini yang sebenarnya kita tidak tahu kapan ujungnya
  • mendapat kepastian,, siapakah yang paling bertanggung jawab sehingga masalah mampu menggulingkn pemerintahan 32 tahun

Tidak ada salahnya kita turut berbagi dengan mendoakan beliau. semoga lekas sembuh meski salah satu surat kabar hari ini menyebutkan bahwa peluang Pak Harto 50:50.

Tetep Optimis!!

    Truly No Answer!!!!

    Kesaaaal………..

    kenapa harus kata itu…apa yang dapat aku gambarkan untuk mewakili sebuah rasa yang jengkel, kecewa, marah…apa ada kata lain??
    Hei…! Kenapa aku harus marah, apa hakku..??

    Seenaknya aku mengatur kehidupannya..Bukan!! Bukan itu yang kuinginkan. semua tak seperti biasanya, lama aku tak pernah merasakan hal semacam ini…rasa marah karena ia tak mengacuhkanku. Kemana kamu pergi, sudah tidak adakah aku boleh merasuki sukmamu. Atau ada tempat untuk dia, dia dan dia..

    Kemana aku harus mencarimu, membuang apa yang sudah aku genggam saat ini demi engkau yang pernah meninggalkan aku…

    Demi Tuhan, katakan padaku…apakah ini akhir dari kisah tak sempurna ini??

    Apa aku harus memindah otakku ke bawah agar aku tak ingat lagi hari ini….???

    Hotspot Milik Siapa

    Akses internet GRATIS merupakan fasilitas kampus yang sangat menggiurkan buat saya. Mengapa tidak mengingat kita bisa pergi ke belahan dunia manapun dalam hitungan detik. Menjalin koneksi dengan orang dari region manapun dengan mudah, bahkan kalau dihitung-hitung, mengirim surat lewat email jauh lebih murah dibanding kita mengirimnya lewat jasa pos. Bagaimana tidak semua orang tidak menginginkan keasikan online ini ???

    Tidak terkecuali saya tentunya. apalagi sebagai mahasiswa saya menikmati keuntungan ini. Tapi sayangnya, fasilitas ini hanya dapat dinikmati oleh mahasiswa ber-laptop. Komputer kampus hanya mampu memenuhi secuil mahasiswa untuk ikut pula memanfaatkan akses gratis ini. bagaimanakah seharusnya?? Padahal kami sama-sama memiliki hak yang sama untuk memanfaatkan hotspot ini.

    Tidak ada yang salah mungkin. Atau mungkin memang ada yang perlu dipersalahkan? Lebih bijaksana jika kita tidak mencari-cari oknum yang sebenarnya pun tidak mengerti dengan situasi ini.

    « Entri lama